in Pilgub_DKI, Sindikasi_Media, Uncategorized

Isu SARA tingkatkan angka Golput

JPPR, Jakarta– Putaran kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012 diwarnai dengan isu Suku, Agama dan Antar Golongan (SARA). Sasarannya jelas ingin menurunkan partisipasi warga memilih, mendongkrak angka golongan putih dan menjatuhkan pihak lawan. 

Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menilai, isu SARA dengan menggunakan cara seperti itu sama sekali tidak mencerdaskan.
“Masyarakat pemilih Jakarta sudah cerdas dan rasional, sehingga tak akan termakan oleh isu-isu negatif, kotor dan tidak mendidik seperti ini,” ujar Manajer Pemantauan JPPR Masykurudin Hapidz, di Kantor Panwaslu DKI, Jakarta Pusat, Rabu (25/7/2012).
Kampanye dengan isu SARA, sangat kontraproduktif. Penggunaan isu agama dan etnis, untuk menjatuhkan lawan politik dan mencari sensasi akan merugikan diri sendiri, bahkan bisa menghilangkan dukungan.
“Kampanye model ini membuat Golput makin tinggi. Tingginya angka Golput pada putaran pertama justru akan tambah tinggi apabila yang beredar dan berkembang adalah model kampanye kotor seperti ini,” tambahnya.
Sebaliknya jika ingin meningkatkan partisipasi warga, masing-masing pasangan calon dan tim sukses harus melakukan pendekatan ke masyarakat dengan melakukan penajaman visi, misi dan program yang sudah dicanangkan.
“Kampanye dengan cara seperti ini dengan cara massif dan tersembunyi, rentan sekali memicu konflik horizontal yang lebih jelas,” pungkasnya.
Sekedar diketahui, JPPR melaporkan hasil pemantauan terkait penggunaan isu SARA di putaran kedua Pilgub DKI ke Panwaslu DKI Jakarta. Isu SARA itu tersebar melalui selebaran gelap, spanduk, pesan singkat, dan Black Berry Messengger (BBM).
Sumber: Sindo, 25 Juli 2012
Repost: Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR)

Post Comment