in Berita, Uncategorized

Warga: Berharap Janji Cagub-Cawagub Tak Sekedar Janji

JPPR, JAKARTA— Kampanye terbuka mulai dilakukan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pada Senin (25/6/2012) ini. Siap-siap saja warga Ibu Kota dibuai dengan janji-janji melalui program penanggulangan masalah Jakarta, seperti kemacetan, banjir, pendidikan, dan kesehatan, oleh para kandidat.
Empat persoalan pokok Jakarta itu pun menjadi program unggulan hampir semua kandidat yang ada. Beberapa warga mengaku ingatannya kembali terbang ke pilkada tahun 2007. Pada tahun itu, dua pasang kandidat yang ada juga mengutarakan janji yang sama.
“Saya ingat tahun 2007 mereka (cagub-cawagub) juga kemari. Sama persis, bilangnya pendidikan gratis dan pengobatan gratis. Hafal saya mah,” ucap Ratna, Senin (25/6/2012) siang, di sela-sela kampanye Alex Noerdin-Nono Sampono di Jatinegara Barat, Jakarta Timur.
Pada pilkada tahun 2007 lalu hanya ada dua pasang kandidat, yakni Fauzi Bowo-Prijanto dan Adang Daradjatun-Dani Anwar. Fauzi Bowo dan Prijanto akhirnya memenangi pilkada itu.
Perempuan setengah baya ini mengaku beban hidupnya di Jakarta kian bertambah. Dengan anak 8 orang, bukan perkara mudah bagi keluarga Ratna menjalani hari demi hari. “Sekarang saya punya tiga anak lagi yang masih sekolah. Satunya kelas I SD, I SMP, dan I SMK,” katanya.
Uang pangkal yang mencapai Rp 2 juta, diakui Ratna, sangat berat mengingat dirinya hanya pedagang kecil, sementara sang suami hanya bekerja sebagai buruh serabutan. “Belum lagi uang SPP-nya Rp 200.000. Saya cuma rasain si kecil aja yang gratis di SD. Yang lainnya tetap bayar. Katanya gratis semua sampai tamat SMA, tapi kenyataannya enggak,” aku Ratna.
Hal yang sama juga sempat diutarakan Carita, warga Kampung Nelayan, Cilincing, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu saat berbincang dengan wartawan. “Dulu mereka datang ke sini. Janjinya sama, pendidikan dan kesehatan. Nyatanya, boro-boro realisasiin janji, ke sini aja enggak pernah lagi. Datang cuma pas kampanye,” keluh Carita.
Wilayah Kampung Nelayan di Cilincing terbilang kawasan kumuh dengan sampah menggunung dan menimbulkan bau tidak sedap. Beberapa rumah di perkampungan itu juga tidak memiliki MCK sendiri. Warga harus mengantre untuk menggunakan MCK yang jumlahnya terbatas.
Meski sama-sama dikecewakan oleh janji-janji para kandidat, baik Ratna maupun Carita tetap memiliki secercah harapan. “Saya mau tahu dan lihat yang baru. Harapan sih ada, tapi jangan sampai lupa sama janjinya,” aku Ratna.
Carita juga mengatakan, dirinya tetap akan menggunakan hak pilihnya pada tanggal 11 Juli mendatang. “Setidaknya kita mencoba berubah. Kalau enggak peduli, kapan berubahnya. Semoga saja mereka ingat janji-janjinya,” ujar Carita.

Sumber: Kompas dot com
Repost: Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR)

Post Comment