in Sindikasi_Media, Uncategorized

Tingginya Golput Akibat Mesin Parpol tak Bergerak

Tingginya persentase golongan putih (Golput) masyarakat Jawa Barat terhadap proses pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jabar periode 2013-2018 yang mencapai 36,3 persen, menunjukkan bahwa parpol tidak menjalankan pendidikan Pemilu. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap produk pemilu seperti Pilgub, Pilpres, dan Pileg terus menurun.
“Kemenangan golput, harus menjadi catatan penting bagi kita semua karena ini akan mengancam Pemilu 2014, perlu ada strategi yang lebih menyasar ke pemilih terutama di remote area kalau golput tidak ingin lebih tinggi lagi,” ucap Manajer Pemantauan Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz kepada “PRLM”, di Jakarta, Senin (4/3/13).
Menurut Hafidz, secara subtansial, golput ini adalah juga bagian dari hukuman untuk partai politik yang melakukan tindakan tidak benar (misalnya isu korupsi) dan berakibat kepada pasangan calon yang diusungnya. Kuatnya pemberitaan tentang isu korupsi juga berpengaruh, meskipun dalam hal ini memang ada pengecualian bagi calon didukung Partai Keadilan Sejahtera. Itu karena, para pendukungnya relatif militan sehingga aspek tindakan golputnya kecil.
Koordinator Nasional JPPR Yus Fitriadi menambahkan, ada dua faktor yang menyebabkan kepercayaan publik terhadap pemilu terus menurun. Pertama, karena produk yang dihasilkan tidak memenuhi harapan masyarakat. Kedua, kejenuhan masyarakat terhadap pelaksanaan pemilukada, yang dalam prosesnya cukup sering, dari mulai pileg, pilpres, pilgub, pilkabup/pilwalkot sampai pilkades.
“Ketiga, lemahnya sosialisasi dan pendidikan pemilih, serta lemahnya sosialisasi dari penyelenggara pemilu seperti KPU yang berimplikasi ketidakpahaman masyarakat dalam pemilukada. Selain itu, peran-peran pendidikan pemilih, tidak dijalankan baik oleh partai politik maupun oleh penyelenggara pemerintah yang membuat regulasi pemilukada,” katanya.
Hal senada dikatakan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya. Menurut Bima, mesin partai cenderung hanya sebatas mobilisasi suara untuk pilkada atau pemilu. Akibatnya, pendidikan politik terhadap masyarakat seperti diabaikan.
“Ya (mesin parpol tidak bergerak untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam politik,red.). Harusnya lebih dari sekedar itu (mobilisasi suara, red.),” ucapnya kepada “PRLM”, di Jakarta, Senin (4/3/13).
Sebelumnya diberitakan, tingkat Golput pada Pilgub Jabar 2013 mencapai 36,3 persen. Jumlah itu meningkat empat persen dari Pilgub Jabar 2008 yang persentasenya 32,7 persen. (A-194/A-88)***
Post: Pikiran Rakyat, 05 Februari 2013

Post Comment