in Sindikasi_Media, Uncategorized

Jokowi Tak Cukup Hanya ‘Jalan-jalan’


JPPR, Jakarta – Cara kerja ‘jalan-jalan’ Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin diapresiasi. Cara ini menghadirkan partisipasi publik. Namun Jokowi tak cukup hanya ‘jalan-jalan’.
“Memenuhi harapan masyarakat dengan ‘jalan-jalan’ juga tidak cukup. Mesti tetap harus ada ukuran evaluasi keberhasilannya, dan sejauh mana kemajuannya,” kata Manajer Pemantauan Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz kepada CentroOne.com di Jakarta, Rabu (24/10/2012).
Dia mengapresiasi saat Jokowi ‘jalan-jalan’ mengunjungi warga korban langganan banjir di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.
Dalam mengatasi masalah banjir di lokasi, Jokowi dinilai justru ingin hadirkan partisipasi publik melalui dialog dengan warga sekitar. Keputusan bersama akan menjadi jurus untuk mengatasi masalah banjir. Setiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda menyelesaikan banjir musiman tersebut.
“Ya itu betul (dialog publik) tetap dalam hal mengatasi banjir misalnya, memang semua pihak harus diajak bersama. Jadi masalah banjir memang tidak sekadar problem tertentu, tetapi sudah semua pihak,” ujar Masykur.
Masalah banjir di Jakarta, lanjut dia, memang masuk kategori akut. Sehingga dibutuhkan kerja sama pihak-pihak terkait, karena tidak hanya orang di pinggir bantaran yang kena banjir, tetapi jalan protokol, misalnya di Jalan Sudirman juga terjadi genangan air.
“Persoalan banjir juga berkaitan dengan dinas tata ruang kota secara menyeluruh. Solusinya tetap harus ada plan yang baik, komprehensif dan berkaitan satu sama lain, dan evaluasi birokrasi secara transparan,” kata Masykur.
Shock Therapy
Sementara inspeksi mendadak atau sidak yang dilakukan Jokowi dinilai bermanfaat. Setidaknya untuk memberikan shock therapy kepada birokrasi di kecamatan dan kelurahan agar tidak main-main dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat Jakarta.
“Setidaknya ada Camat dan Lurah itu memberikan pelajaran bagi yang lain, untuk tidak terlambat masuk kantor. Karena itu akan mengurangi jam pelayanan masyarakat,” ujar Masykur
Selain menjadi shock teraphy, sidak Jokowi di Kecamatan Cempaka Putih Jakarta Pusat harus menjadi pelajaran bersama untuk menghargai waktu bagi profesionalitas pekerjaan.
“Memberikan pelajaran untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, jangan leha-leha dan malas-malasan karena pejabat meskipun itu di tingkat kelurahan tetap saja dibayar oleh keringat rakyat melalui pajak yang dibayarkan,” wanti-wanti Masykur.
Namun, sambung dia, tindakan sidak Jokowi juga sifatnya sesekali jika sudah diperlukan. Kalau terlalu sering, potensi rasa tidak nyaman dalam bekerja malah muncul nantinya.
“Model begini memang cukup untuk modal shock therapy saja, karena kalau terus-terusan sidak hanya akan membuat suasana ketakutan dan tidak nyaman bekerja. Malah hanya bekerja justru kalau ada isu sidak saja,” demikian Masykur.
repost: Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR)

Post Comment